Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu

Ilmu merupakan cahaya petunjuk yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki, yakni hamba-Nya yang tidak pernah lelah untuk mencarinya sehingga ia sanggup membedakan antara al haqq dengan al bathil. Dengannya Allah meninggikan kedudukannya di hadapan manusia selainnya. Firman Allah dalam QS. Mujaadilah 58: 11.

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”

Betapa mulianya ilmu dan ahli ilmu – semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah Allah muliakan dengan ilmu –. Dalam tulisan ini akan diparparkan beberapa ayat yang akan lebih menegaskan keutamaan ilmu dan ahli ilmu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala…

‌أ.        قول الله تعالى (وعَلَّم آدم الأسمـــاء كلها ثم عرضـــهم علي الملائكة فقال أنبئونى بأسماء هؤلاء إن كنتم صادقين، قالوا سبحانك لاعلم لنا إلا ما علّمتنا إنك أنت العليم الحكيم، قال ياآدم أنبئهم بأسمائهم. فلما أنبأهم بأسمائهم قال ألم أقل لكم إنى أعلم غيب السموات والأرض وأعلم ما تبدون وما كنتم تكتمون) البقرة 31 – 33.

Artinya: (Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”)

Menurut Al Qurtubi rahimahullah (tafsir al Qurthubi 1/288-289), dalam ayat Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Mengandung lima keutamaan, di antaranya.

  • Pertama: Menjelaskan keutamaan Adam yang telah mengetahui nama dari benda-benda yang diperlihatkan kepada Malaikat.
  • Kedua: Menunjukkan keutamaan ilmu dan keutamaan ahlinya. Dalam hadits disebutkan,

وإن الملائكة لتضع أجنحتها رِضاً لطالب العلم

Artinya: (Sesungguhnya para malaikat benar-benar merendahkan sayap-sayapnya dikarenakan ridha terhadap orang yang menuntut ilmu.)

Dalam hal ini para malaikat tunduk dan merendahkan diri pada para penuntut ilmu, maka apalagi kepada para ulama dan cendikia..?!

‌ب.   قول الله تعالى (وأنزل الله عليك الكتاب والحكمة وعَلَّمك مالم تكن تعلم، وكان فضل الله عليك عظيما) النساء 113.

Artinya: (Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.)

Dalam ayat di atas Allah menjelaskan keutamaan ilmu dan Dia mensifati ilmu sebagai karunia yang besar. Karenanya, Allah senantiasa menganugerahi ilmu kepada para nabi-Nya (QS. 19: 43, 12:6, 68, 2:251, 5:110) dan juga kepada para hamba-Nya yang beriman (QS. 150-151).

‌ج.    قول الله تعالى (وقل ربِّ زدنى علما) طه 114.

Artinya: (Dan katakanlah (Muhamamd): “Wahai Rabbku tambahkanlah ilmu kepadaku)

Dengan jelas Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan ilmu hingga Dia tidak memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk memohon tambahan sesuatu selain ilmu. Sedangkan ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Adapun poros ilmu tersebut berpusat pada tafsir, hadits, dan fiqh.

‌د.      قوله تعالى (فوجدا عبداً من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما، قال له موسى هل أتبعك على أن تعلمن ِمما عُلِّمت رشداً) الكهف 65 – 66.

Artinya: (Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya (Khidhr): “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”)

Lihatlah bagaimana Nabi Musa ‘alayhi salam rela pergi jauh untuk menuntut ilmu kepada orang yang tentu saja tidak lebih utama daripada dirinya, yakni Khidhr, padahal Nabi Musa ‘alayhi sallam merupakan seorang yang termasuk Rasul Ulul ‘Azmi, sedangkan Khidhr hanyalah seorang Nabi dan bukan seorang Rasul berdasarkan kesepakatan para ‘ulama.

‌ه.       قول الله تعالى (شهد الله أنه لاإله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لاإله إلا هو العزيز الحكيم) آل عمران 18.

Artinya: (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.)

Ibn al Qayyim al Jawziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas menunjukkan keutamaan ilmu dan ahlinya dari beberapa sisi:

  • Pertama: Allah meminta mereka menjadi saksi, bukan kepada manusia selain mereka.
  • Kedua: Digandengkannya kesaksian mereka dengan kesaksian Allah.
  • Ketiga: Digandengkannya kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian para malaikat-Nya.
  • Keempat: Dalam kandungan ayat ini terkandung penyucian terhadap mereka dan pernyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang adil, karena Allah tidak mungkin meminta kesaksian dari orang yang tidak adil.

                     – Sampai dengan  perkataannya –

  • Keenam: Bahwasanya Allah Ta’ala meminta kesaksian pada diri-Nya sendiri (dan Dia adalah sebesar-besar saksi), kemudian pada sebaik-baik makhluq ciptaan-Nya, yakni para malaikat dan para ulama di kalangan hamba-Nya.

‌و.      قول الله تعالى (قل هل يستـــوي الذين يعلمون والذين لايعلمون، إنما يتذكر أولوا الألباب) الزمر 9.

Artinya: (Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. )

Ibn al Qayyim berkata tentang ayat ini: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menafikan persamaan antara ahli ilmu dengan selainnya, sebagaimana Dia menafikan persamaan antara para penghuni syurga dan para penghuni neraka.”

‌ز.       قول الله تعالى (أفمـــن يعلم أنما أنزل إليك من ربك الحق كمن هو أعمى، إنما يتذكر أولوا الألباب) الرعد 19.

Artinya: (Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.)

Ibn al Qayyim berkata bahwa dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menjadikan orang-orang yang bodoh sekedudukan dengan orang-orang yang buta. Bahkan dalam tempat yang lain menyebutkannya sekedudukan dengan orang-orang yang bisu, tuli, dan buta.

‌ح.     قول الله تعالى (وكذلك أوحينا إليك روحاً من أمرنا ما كنت تدري ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نوراً نهدي به من نشاء من عبادنا، وإنك لتهدي إلى صراط مستقيم) الشورى 52.

Artinya: (Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.)

Semakin bertambah nasib keberuntungan seorang hamba dalam mendapatkan ilmu, maka semakin bertambah pula nasib keberuntungannya dalam mendapatkan cahaya petunjuk, yang dengan cahaya itu ia bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil (Lihat juga QS. 6: 122 dan 57: 28).

‌ط.    قول الله تعالى (قالوا اتخذ الله ولداً سبحانه، هو الغني، له مافي السموات وما فى الأرض إن عندكم من سلطان بهذا، أتقولون على الله مالا تعلمون) يونس 68.

Artinya: (Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: “Allah mempuyai anak.” Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?)

Allah menyebut ilmu dan hujjah dalam ayat ini dengan kata “سلطان”. Allah meminta orang-orang kafir untuk memberikan hujjah atas pengakuan mereka dan Allah mengingkari pengakuan mereka yang tidak disertai ilmu (Lihat juga QS. 7: 71; 22: 71; 37: 151-156)

Kata “sulthan” dalam al Quran mengandung dua makna:

  • Ilmu dan hujjah, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas.
  • Kekuasaan dan kekuatan (Lihat QS. 17: 33 dan 80)

Ibn al Qayyim berkata, “Maksud bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai ilmu dan hujjah dengan istilah “sulthan” dikarenakan hujjah tadi memberikan kekuasaan dan kekuatan pada pemiliknya. Dengan hujjah itu ia mempunyai kekuasaan atas orang-orang bodoh. Bahkan sulthan (ilmu) itu lebih besar pengaruhnya daripada sulthan tangan (kekuatan). Karenanya, manusia bisa tunduk kepada hujjah dalam hal yang ia tidak tunduk kepada tangan/ kekuasaan.

Sesungguhnya hujjah itu menundukkan hati sedangkan tangan itu hanya menundukkan badan. Hujjah bisa menawan hati, menggiringnya dan menghinakan lawannya, meski ia menampakkan penentangan dan kekeras kepalaan, tapi hatinya tunduk padanya, hina dan kalah di bawah sulthannya. Sedangkan sulthan pangkat, jika tidak disertai dengan ilmu yang bisa mengendalikannya, sama halnya dengan sulthan binatang buas dan singa serta hewan-hewan lain yang semisalnya, ia hanyalah kekuatan tanpa ilmu dan belas kasih. Sedangkan sulthan hujjah sebaliknya, ia adalah kekuatan dengan ilmu, belas kasih dan kebijaksanaan.”

Abul Aswad ad Duwali berkata: “ Tidak ada sesuatu yang lebih kuat/ mulia daripada ilmu. Para raja adalah penguasa/ pemimpin manusia, sedangkan ‘ulama adalah pemimpin para raja.”

Kebenaran akan hal ini ditunjukkan oleh dalil berikut:

‌ي.    قول الله تعالى (وإذا جاءهم أمرٌ من الأمن أو الخوف أذاعوا به، ولو ردّوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم) النساء 83.

Artinya: (Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka).

Ibn Taymiyah mengatakan bahwa Ulil Amri (termasuk yang terdapat dalam QS. 4:59) terdiri dari dua golongan: ‘ulama dan umara`. Apabila mereka baik, maka baiklah manusia dan apabila mereka rusak, maka rusaklah manusia.

Sedangkan Ibn Hajjar berkata: “Ada perbedaan pendapat dalam memahami maksud dari kata “ulil amri” dalam ayat di atas. Dari Abu Hurayrah, ia berkata: Mereka adalah umara`. Dan dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata: “Mereka adalah orang-orang berilmu dan orang-orang yang baik”, dan dari Mujahid dan Atha’ dan Al Hasan serta Abul ‘Aliyah: “Mereka adalah ‘ulama”.

‌ك.     قال الله تعالى (يسألونك ماذا أحل لهم قل أحل لكم الطيبات وماعلمتم من الجوارح مكلبين تعلمونهن مما علمكم الله فكلوا مما أمسكن عليكم واذكروا اسم الله عليه واتقوا الله إن الله سريع الحساب) المائدة4 .

Artinya: (Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?.” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya).

Keutamaan ilmu bahkan digambarkan oleh Allah hingga binatang dimana Dia membedakan antara anjing terlatih dengan anjing yang bodoh (tidak terlatih). Ibn al Qayyim berkata: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan (hewan) buruan anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, dan membolehkan (menghalalkan) buruan anjing yang dilatih. Hal ini termasuk kemuliaan ilmu, bahwasanya tidak boleh memakan buruan anjing kecuali buruan anjing yang pandai. Adapun anjing yang bodoh, maka tidak halal dimakan buruannya. Maka hal ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan keutamaannya.

Jadi, kalaulah bukan karena keistimewaan ilmu dan ta’liim (pengajaran) serta kemuliaan ilmu dan ta’liim, niscaya buruan anjing yang terlatih dengan anjing yang bodoh adalah sama.”

Tentu saja masih banyak ayat di dalam al Quran yang menjelaskan keutamaan ilmu dan ahli ilmu yang tidak tercantum dalam tulisan ini. Ini hanyalah sebagian kecil dalil yang menunjukkan bahwa begitu mulianya ilmu dan ahli ilmu di hadapan Allah Ta’ala. Wallahu a’lam…

(Tulisan ini berasal dari Kitab Al Jamii’ fii Thalab al-‘Ilmi asy-Syariif karya Syaikh Abdul Qadir Abdul Aziz hafidzhahullah Bab I Fasal “Dalil-Dalil dari Kitabullah Ta’ala yang menunjukkan Keutamaan Ilmu dan Ahli Ilmu”).

Dirangkum dan diedit seperlunya oleh:

Al Faqir ilaLlah,

الفضل بن زين العبدين

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s